JEJAK DI TANZANIA EPISODE 2

JEJAK DI TANZANIA EPISODE 2

JEJAK DI TANZANIA

Episode 2: Di Balik Buku Sejarah: Benih-Benih Kebersamaan

Oleh Rani Nawang Sari


Minggu-minggu pertama di SMA Tanzania berlalu dengan cepat. Rara mulai terbiasa dengan rutinitas sekolah, meskipun masih sesekali merasa canggung di tengah keramaian. Bima dan Kevin menjadi teman yang menyenangkan, selalu ada dengan celotehan dan tingkah laku mereka yang menghibur. Namun, interaksinya dengan Sinta masih terbatas pada tatapan singkat di kelas atau papasan tanpa sapa di lorong sekolah.

Suatu siang, saat pelajaran Sejarah, Bapak Sunardi, guru yang dikenal dengan penjelasannya yang menarik namun tugasnya yang cukup menantang, mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas besar di akhir semester. Tugas kali ini adalah membuat presentasi interaktif tentang sejarah berdirinya SMAN 2 Ogan Komering Ulu, termasuk latar belakang peresmiannya oleh Presiden Tanzania, Yulius K. Nyerere.

"Kelompok akan saya tentukan sendiri," ujar Bapak Sunardi1 sambil mengedarkan daftar nama. "Saya ingin kalian belajar bekerja sama dengan berbagai karakter."

Rara menahan napas saat nama-nama kelompok mulai disebutkan. Ia berharap bisa satu kelompok dengan Bima atau Kevin. Namun, takdir berkata lain. "Kelompok tiga: Rara, Bima, Sinta, dan Kevin," ucap Bapak Firman lantang.

Rara sedikit terkejut. Di satu sisi, ia senang bisa satu kelompok dengan Bima dan Kevin, namun di sisi lain, ia merasa sedikit tidak nyaman harus bekerja sama dengan Sinta yang terkesan dingin dan sulit didekati. Ia melihat ekspresi Sinta yang juga tampak tidak terlalu antusias mendengar nama-nama anggota kelompoknya.

Setelah pelajaran selesai, Bima menghampiri Rara dengan senyum lebar. "Wah, kita satu kelompok! Asyik!"

Kevin ikut menimpali, "Iya nih, bakal seru! Kita bikin presentasi yang paling keren!"

Rara mencoba menyembunyikan keraguannya. "Iya, seru," jawabnya berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia melirik ke arah Sinta yang sudah membereskan bukunya dan bersiap keluar kelas.

"Sinta, tunggu!" panggil Bima. "Kita kan satu kelompok untuk tugas Sejarah. Kapan kita bisa mulai diskusi?"

Sinta berhenti di ambang pintu, menoleh sekilas dengan ekspresi datar. "Terserah kalian saja. Kabari kalau sudah ada rencana." Setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi.

Bima menghela napas. "Sinta memang begitu. Tapi jangan khawatir, Ra. Nanti juga cair kok."

Hari berikutnya, Rara, Bima, dan Kevin sepakat untuk bertemu di perpustakaan sekolah setelah jam pelajaran usai untuk mulai membahas tugas mereka. Mereka bertiga sudah memiliki beberapa ide awal tentang bagaimana menyajikan sejarah sekolah mereka dengan menarik.

Saat mereka sedang asyik berdiskusi, Sinta datang menghampiri meja mereka. Ia membawa beberapa buku referensi tentang sejarah Afrika dan hubungan diplomatik Indonesia dengan Tanzania pada masa itu.

"Ini mungkin bisa membantu," ujarnya singkat sambil meletakkan buku-buku tersebut di atas meja.

Rara, Bima, dan Kevin saling bertukar pandang. Ini adalah pertama kalinya Sinta berinisiatif dalam kelompok.

"Wah, terima kasih, Sinta!" seru Bima dengan nada ceria. "Kamu memang yang paling pintar di antara kita."

Sinta hanya mengedikkan bahunya pelan. Ia kemudian duduk di kursi kosong dan mulai membuka salah satu buku. Suasana canggung sempat menyelimuti mereka beberapa saat.

Kevin mencoba mencairkan suasana dengan leluconnya, "Jangan-jangan Sinta ini keturunan Presiden Nyerere yang menyamar jadi siswi SMA Tanzania!"

Meskipun tidak tertawa, sudut bibir Sinta terlihat sedikit tertarik ke atas. Itu adalah kemajuan.

Diskusi pun mulai berjalan lebih lancar. Sinta ternyata memiliki banyak informasi menarik tentang sejarah peresmian sekolah mereka. Ia menjelaskan konteks politik dan sosial pada masa itu, serta peran penting Presiden Nyerere dalam mendukung pendidikan di negara-negara berkembang. Bima dengan ide-idenya yang kreatif mengusulkan untuk membuat presentasi dalam bentuk drama singkat. Kevin, dengan bakat aktingnya, langsung bersemangat dengan ide tersebut. Rara, yang memiliki kemampuan menulis yang baik, bertugas menyusun naskah dan materi presentasi.

Selama beberapa hari berikutnya, mereka menghabiskan banyak waktu bersama di perpustakaan, ruang kelas kosong setelah jam pelajaran, bahkan di kantin saat istirahat. Mereka berdiskusi, bertukar ide, dan mulai saling mengenal lebih dekat. Rara menyadari bahwa di balik sikap dingin Sinta, tersimpan kecerdasan yang luar biasa dan ketelitian dalam mengerjakan sesuatu. Bima dengan sifatnya yang supel selalu berhasil menjaga semangat kelompok. Kevin, meskipun seringkali melucu, juga memiliki ide-ide brilian yang tak terduga.

Terkadang, perbedaan pendapat tak terhindarkan. Sinta yang perfeksionis seringkali mengkritik ide-ide Kevin yang dianggap terlalu santai. Bima selalu berusaha menengahi, mengingatkan mereka akan tujuan bersama. Rara belajar untuk berani mengutarakan pendapatnya dan mencari solusi yang bisa diterima semua anggota kelompok.

Suatu sore, saat mereka sedang berlatih drama di aula sekolah, Kevin melakukan kesalahan dialog yang membuat semua orang tertawa. Bahkan Sinta terlihat tersenyum tipis. Momen itu terasa sangat cair dan hangat. Rara menyadari bahwa tembok yang selama ini memisahkan mereka perlahan mulai runtuh.

Saat mereka beristirahat, Rara memberanikan diri bertanya pada Sinta, "Sinta, kenapa kamu begitu tertarik dengan sejarah peresmian sekolah kita?"

Sinta terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ayahku dulu adalah salah satu siswa angkatan pertama di sekolah ini. Ia sering bercerita tentang bagaimana sekolah ini dibangun dengan semangat gotong royong dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Presiden Nyerere. Bagiku, sejarah sekolah ini adalah bagian dari sejarah keluargaku."

Rara merasa tersentuh mendengar cerita Sinta. Ia baru menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan alasan tersendiri untuk menjadi seperti apa adanya.

Hari presentasi pun tiba. Kelompok Rara, Bima, Sinta, dan Kevin menampilkan presentasi yang luar biasa. Drama singkat yang mereka perankan berhasil menghidupkan kembali suasana peresmian sekolah puluhan tahun lalu. Informasi sejarah yang disampaikan Rara tertata dengan baik dan mudah dipahami. Sinta memberikan penjelasan yang mendalam tentang konteks sejarah dan hubungan bilateral Indonesia-Tanzania. Bima dengan kepiawaiannya memimpin jalannya presentasi, dan Kevin berhasil menghibur penonton dengan sentuhan humornya.

Bapak Sunardi memberikan pujian atas kerja sama dan kualitas presentasi mereka. "Kalian telah menunjukkan bahwa dengan kerja sama yang baik, perbedaan bukan menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan," ujarnya sambil tersenyum bangga.

Setelah presentasi selesai, mereka berempat berkumpul di kantin sekolah. Suasana terasa berbeda dari pertama kali mereka ditunjuk menjadi satu kelompok. Tidak ada lagi kecanggungan atau jarak. Mereka tertawa bersama, saling lempar pujian, dan merasa bangga dengan apa yang telah mereka capai.

"Ternyata kerja kelompok tidak selalu menyebalkan ya," celetuk Kevin sambil menyantap bakso.

Bima menimpali, "Tergantung siapa anggota kelompoknya. Kalau kayak kita gini, baru asyik!"

Sinta, yang biasanya irit bicara, ikut tersenyum. "Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku."

Rara merasa hangat mendengar ucapan Sinta. Ia menyadari bahwa tugas kelompok ini tidak hanya menghasilkan nilai yang baik, tetapi juga menumbuhkan benih-benih persahabatan yang tulus di antara mereka. Mereka yang awalnya merasa asing dan berbeda, kini mulai merasakan kebersamaan di balik seragam abu-abu SMA Tanzania. Kisah mereka di sekolah ini baru saja dimulai, dan babak tentang persahabatan telah terbuka dengan indah.



0 Comments

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang harus diisi ditandai *