JEJAK DI TANZANIA
Episode 10: Jejak yang Tertinggal: Kenangan Manis di Tanzania
Oleh Rani Nawang Sari
Hari perpisahan siswa kelas XII tiba dengan suasana yang bercampur aduk. Halaman SMA Tanzania dipenuhi oleh siswa-siswi yang mengenakan seragam batik kebanggaan, wajah-wajah haru guru dan orang tua, serta senyum-senyum bangga para kakak kelas yang telah menyelesaikan babak penting dalam hidup mereka. Bagi Rara, Bima, Sinta, dan Kevin, hari ini adalah momen untuk mengucapkan selamat jalan kepada para senior yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan sekolah mereka. Namun, di balik ucapan selamat, terselip juga perasaan kehilangan dan refleksi tentang perjalanan mereka sendiri selama ini di SMA Tanzania.
Mereka berempat berdiri di antara kerumunan siswa, menyaksikan prosesi pelepasan yang penuh khidmat. Sambutan dari kepala sekolah, Bapak Agus Sudiana, terasa begitu menyentuh, mengingatkan kembali tentang nilai-nilai kebersamaan dan semangat belajar yang telah ditanamkan di sekolah yang memiliki sejarah unik ini. Pidato perwakilan siswa kelas XII sarat akan kenangan manis dan pahit yang telah mereka lalui bersama di bawah naungan nama "SMA Tanzania."
Rara teringat akan hari pertamanya yang penuh kebingungan dan kecanggungan. Ia tersenyum tipis saat mengingat pertemuannya yang tidak sengaja dengan Sinta dan keramahan Bima serta Kevin yang membuatnya merasa diterima di lingkungan baru. Ia menyadari betapa banyak hal yang telah berubah sejak hari itu. Ia telah menemukan sahabat-sahabat sejati, mengembangkan minatnya di dunia jurnalistik, dan belajar untuk lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan.
Bima merenungkan kembali momen-momen kebersamaannya dengan tim basket, latihan-latihan yang melelahkan, dan semangat persaingan yang sehat. Ia juga mengingat tawa dan canda bersama Rara, Sinta, dan Kevin di kantin atau saat mengerjakan tugas kelompok. Ia menyadari bahwa persahabatan mereka adalah salah satu hal terbaik yang ia dapatkan selama di SMA. Meskipun beberapa kakak kelas yang menjadi panutannya di tim basket akan pergi, ia bertekad untuk melanjutkan semangat mereka dan membawa tim basket SMA Tanzania meraih prestasi yang lebih tinggi.
Sinta mengenang kembali perjuangannya dalam menghadapi tekanan akademik dan bagaimana dukungan dari teman-temannya, terutama saat ia menghadapi masalah keluarga, memberinya kekuatan untuk terus maju. Ia juga mengingat diskusi-diskusi intelektual yang menarik dengan Arya dan bagaimana ketertarikan yang tumbuh di antara mereka memberikan warna baru dalam kehidupannya. Ia menyadari bahwa di balik fokusnya pada belajar, persahabatan dan hubungan baik dengan orang lain juga merupakan hal yang sangat penting.
Kevin mengingat semua tingkah lucunya yang seringkali membuat teman-temannya tertawa, penampilannya di pentas seni yang membuatnya merasa menemukan jati dirinya, dan keberaniannya untuk mendekati Maya. Ia menyadari bahwa SMA Tanzania adalah tempat di mana ia bisa berekspresi dengan bebas dan menemukan passion-nya di dunia teater. Meskipun ia masih memiliki keraguan tentang masa depannya di dunia seni, dukungan dari sahabat-sahabatnya memberinya keberanian untuk mengejar mimpinya.
Setelah acara resmi selesai, Rara, Bima, Sinta, dan Kevin menghampiri beberapa kakak kelas XII yang dekat dengan mereka untuk mengucapkan selamat jalan dan memberikan pelukan perpisahan. Suasana haru terasa begitu kental. Air mata tak tertahankan saat mereka saling berjanji untuk tetap menjaga komunikasi meskipun nantinya akan terpisah oleh kesibukan kuliah dan kehidupan masing-masing.
Saat mereka berempat berkumpul kembali di bawah pohon rindang di halaman sekolah, mereka saling bertukar pandang dengan senyum yang menyimpan berbagai macam perasaan.
"Rasanya aneh ya, melihat kakak kelas sudah lulus," ujar Rara dengan nada pelan.
Bima mengangguk setuju. "Iya, seperti ada bagian dari sekolah yang hilang."
Sinta menimpali, "Tapi ini juga berarti sebentar lagi giliran kita yang akan ada di posisi mereka."
Kevin tersenyum bijak. "Yang penting, kita sudah menciptakan banyak kenangan indah di sini. Kenangan yang akan selalu kita bawa kemanapun kita pergi."
Mereka kemudian mulai mengenang kembali momen-momen penting yang telah mereka lalui bersama di SMA Tanzania. Mereka tertawa saat mengingat hari pertama yang penuh kejutan, drama saat mengerjakan tugas kelompok Sejarah tentang nama sekolah mereka yang unik, cinta monyet yang menggemaskan dan terkadang kikuk, tekanan ujian yang mendebarkan, semangat saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dukungan saat Sinta menghadapi masalah keluarga, upaya mereka dalam mendamaikan kelompok-kelompok yang berselisih, gemerlap malam pentas seni, hingga kegelisahan tentang masa depan yang kini mulai terasa semakin dekat.
Setiap kenangan yang mereka bagikan terasa begitu berharga, seperti kepingan-kepingan mozaik yang membentuk gambaran indah tentang masa remaja mereka di SMA Tanzania. Mereka menyadari bahwa sekolah ini bukan hanya sekadar tempat untuk belajar, tetapi juga tempat di mana persahabatan sejati bersemi, cinta pertama bersemi, bakat ditemukan, dan pelajaran hidup yang berharga didapatkan.
Matahari sore mulai merunduk, memancarkan cahaya keemasan yang menerpa bangunan sekolah. Rara, Bima, Sinta, dan Kevin berdiri bersama, menatap gerbang SMA Tanzania yang sebentar lagi akan mereka lewati sebagai siswa kelas XI. Mereka menyadari bahwa jejak-jejak mereka juga telah tertinggal di sekolah ini, jejak persahabatan, tawa, air mata, dan semangat kebersamaan.
Meskipun waktu terus berjalan dan masa depan dengan segala tantangan dan peluangnya telah menanti di depan mata, kenangan manis di Tanzania akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup mereka. Mereka berjanji untuk terus menjaga ikatan persahabatan yang telah terjalin kuat, saling mendukung dalam menggapai impian masing-masing, dan sesekali kembali ke sekolah tercinta mereka untuk mengenang masa-masa indah yang telah mereka lalui bersama. Karena di SMA Tanzania inilah, cerita persahabatan mereka dimulai dan akan terus berlanjut, bahkan setelah mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah menuju babak kehidupan yang baru.

Suratman Reply
Maaf ini SMA 2 Batumarta? Sekarang namanya kembali jadi SMA tanzania? Saya alumni 1993 waktu kepala sekolah nya pak Nurhadi. Jadi saya sudah meninggalkan bangku SMA 32 tahun yg lalu, tak terasa saya juga sudah mau pensiun dari tempat kerja. Malahan anak anak sudah kuliah semua di ITS dan Unair. Salam hormat kepada bapak kepala sekolah dan dewan guru , semangat untuk adik adik yg sedang menuntut ilmu di SMA 2 ,semoga sukses selalu kedepannya.. amiin