Work from home menjadipopuler ketika pergerakan fisik kita belakangan ini dibatasi oleh keterdesakan.Terdesak oleh mewabahnya pandemik korona yang kini tengah merajalela. WHO secara resmi mengumumkan virus koronacovid-19 sebagai pendemik pada Rabu, 11 Maret 2020 pukul 3.20 sore tempohari. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur JenderalWHO mengatakan, "Ini pendemik pertama yang disebabkan olehcoronavirus," saat mendeklarasikannya di Geneva, Swiss. Salah satu tipspencegahan penyebaran Covid-19 ini diantaranya Social Distancing ataupembatasan sosial.
Workfrom Home, Bukan Sekedar Stay at Home
Menurut singkatannya, workfrom home atau selanjutnya kita sebut WFH berarti bekerja dari rumah. Rumahsebagai tempat kediaman seseorang beserta keluarganya. Bekerja dari rumahberarti mengerjakan tugas-tugas kantor yang dilakukan dari rumah. Tapi istilahWFH secara umum diartikan dengan cara kerja karyawan yang berada di luarkantor. Sebuah pekerjaan atau tugas bisa saja dieksekusi dari rumah, dari cafeatau restoran sesuai dengan keinginan karyawan. Bahkan bisa jadi seseorangmenyelesaikan pekerjaannya pada saat ia tengah menikmati suasana berlibur di luar kota.
Pembatasan sosial ini yang memunculkan opsi agar para pekerjaatau pegawai bisa tetap produktif bekerja dengan mengalihkan tempat bekerjamereka tidak harus di kantor, melainkan dari rumah.
Sistem kerja WFH memang memiliki fleksibilitas yang tinggi.Hal ini guna mendukung keseimbangan karyawan antara pekerjaan dankehidupan.WFH dianggap solusi dalam menyelesaikan tugas-tugas kantordengan tetap memberikan ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang terdekatkita.
Nyatanya kini WFH sedang menjadi solusi karena adanya wabahvirus corona. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penularan virus coronadan keselamatan karyawan. Selain WFH ada juga istilah berikutnya, Stay atHome atau di singkat SAH.
Terus apa bedanya konsep WFH dengan SAH? Ia terletak padasisi produktifitasnya. SAH tidak menuntut adanya hasil pekerjaan atau target.Seseorang yang sedang melakukan kegiatan stay at home dianggap sedangmelakukan pembatasan sosial atau socialdistancing. Tidak melakukan aktifitas bepergian ke manapun. Interaksi hanyaberlangsung dalam rumah bersama keluarga. Tidak harus mengerjakan tugas kantoratau pekerjaan bisnis apapun. Ia semata menghabiskan waktunya untuk hal-halyang bersifat ringan di rumah, sepertiistirahat, makan, menonton, berolahragaterbatas, dan sebagainya. Urusan kantor? Diabaikan saja untuk sementara waktu.
Sedangkan WFH tetapproduktif dan ada target pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia hanya tidakmelakukannya di kantor seperti biasanya. Artinya, masing-masing orang yangmelakukan WFH tetap memiliki target atau standar pekerjaan yang harusdiselesaikan.
BagaimanaGuru Melakukan WFH?
Bagi kalangan pendidik,WFH berarti mengendalikan kegiatan pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Tidak terjadi kegiatan tatap muka secarafisik seperti dalam ruang kelas, melainkan kegiatan pembelajaran berlangsungdengan menggunakan media online.
Kegiatan pembelajarandikendalikan dari jarak jauh dengan media alat komunikasi atau berbasisaplikasi, seperti menggunakan mediasosial (website, facebook, instagram, e-mail, telegram, dan lain-lain) Sebagianlain menggunakan beberapa aplikasi menyerupai tele konferensi. Sehingga tetapterlaksana komunikasi dua arah.
Tentu bukan hal yang mudah. Selainpenguasaan terhadap konsep teknologi yang akan digunakan, guru dan pesertadidik dituntut memiliki perlengkapan pendukung masing-masing. Jadi katakuncinya: ilmu dan alat. Guru dan peserta didik (murid) harus memilikikeduanya. Jika tidak, maka tidak akan pernah ada pembelajaran interaktif yangsesuai dengan konsep WFH ini.
TakCukup Hanya Penugasan
Kembali pada konsepawal WFH. Seorang karyawan yang melakukan WFH ini pasti memiliki target yangharus dicapai. Misalnya ketika merancang sebuah perjanjian kerja, maka dimanapun rancangan itu dibuat, ia sudah meyakini bahwa ia dapat melakukannya.Menghasilkan sebuah rancangan produk yang dimaksud. Terbangun sebuah kerjasamayang dituangkan secara tertulis dalam bentuk nota kesepahaman (MoU).
Dalam kontek kegiatanpembelajaran yang dikemas dalam bentuk WFH, harus ada standardisasi kegiatansehingga dapat terukur. Jika guru menyiapkan materi ajar yang akan dibagikepada peserta didik, maka harus ada kepastian bagaimana materi ajar tersebutdapat diakses oleh peserta didik. Ada kesepakatan waktu (jadwal) sehinggasesuai dengan kesepakatan itu, peserta didik bisa mengakses materi, sekaligusmelakukan langkah-langkah berikutnyanyang harus dikerjakan.
Dalam konteks yangpaling sederhana, jika guru yang bersangkutan mengirimkan tugas atau PR(pekerjaan rumah), maka harus bisa dipastikan bahwa peserta didik dapatmenyelesaikan tugas tersebut. Dengan kata lain, sebuah tugas itu akanmenimbulkan sebuah tagihan, maka tagihan itu seharusnya proporsional danterukur.
Satu hal lagi, dalammelaksanakan tugas pembelajaran, setiap guru pasti mengawalinya dariperencanaan. Sedangkan sebuah perencanaan harus berpedoman pada rambu-rambupendidikan, seperti Standar Nasional pendidikan (SNP), kurikulum, silabus, danRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Oleh sebab itu setiap tugas yangdisiapkan guru menjelang WFH harus mengacu pada pedoman yang ada. Ada targetyang bisa diukur, sehingga kurikulum pembelajaran dapat tercapai.
Tugas yang diberikanjuga harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi psikologis peserta didik.Tidak mengedepankan kuantitas, melainkan kualitasnya yang dapat diukur, karenakuantitas tugas yang terlalu banyak hanya akan membuat peserta didik menjadi stress. Ini akan menjadi preseden kurangbaik bagi orang tua di rumah yang selama WFH pasti menjadi tutor setia.Jangan-jangan orang tua peserta didik yang akan lebih dulu stress melihat banyaknyatagihan yang harus dikumpulkan snag anak.
WFHitu Bisa karena Biasa
Dalam konseppembelajaran interaktif berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi),model pembelajaran daring (baca: online)sebenarnya bukan barang baru. Sekolah-sekolah yang memiliki SDM denganpenguasaan teknologi baik, sudah melakukannya sebagai standar pembelajaran.Teknologi memberikan berbagai kemudahandan menu terbaru dalam kegiatan pembelajaran.
Para guru moderntelah merancang sumber dan media pembelajarannya berbasih teknologi.Merekamembuat sajian materi ajar melalui situs-situs atau blog tertentu yang sudah dibuatnya. Sebagian lain mendisain modelpembelajaran dengan cara mendorong peserta didik agar menjelajahi dunia melaluimoda pencarian di internet. Kemudian para peserta didik melakukan resume atau laporan hasilpenjelajahannya.
Ada juga guru yangmencoba menyajikan kuis interaktif dengan memanfaatkan situs aplikatif seperti quiziz, kahoot, dan lain-lain. Semuadilakukan agar kegiatan pembelajaran bisa berlangsung menyenangkan danmendorong minat belajar peserta didik. Mereka paham, bahwa salah satu penyebabpenurunan hasil belajar peserta didik adalah pola dan model pembelajaran yangdisajkkan secara monoton dan menjemukan. Sebaliknya, kegiatan pemebelajaranyang dilakukan secara menarik, selain bisa menumbuhkan minat belajar juga mampumeningkatkan kreatifitas peserta didikyang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
WFH bagi kalangan guru(dan karyawan sekolah) atau padanannya learnfrom home (LFH) untuk peserta didik, sejatinya tidak akan meninggalkanmasalah baru jika sudah dilakukan sejak dulu. WFH atau LFH sudah menjadi bagiandari tuntutan pembelajaran modern.
Permasalahan itu datangketika kita dituntut untuk melakukan sesuatu, sementara hal itu tidak pernah(atau jarang) kita lakukan. Guru yangdianggap gaptek tentu akan kelabakan menghadapi tuntutan WFH ini, karena sukaatau tidak suka ia harus menggunakan media teknologi agar bisa tetap bekerjaatau melaksanakan tugas profesinya.
Ketersediaan fasilitaspembelajaran berbasis TIK juga menjadi masalah klasik lainnya. Adakah guru danpeserta didik memiliki jaringan internet di rumah masing-masing? Jangan-jangandiantara mereka masih ada yang belum memiliki alat canggih yang bernama android, smartphone, atau sejenisnya?
Memberikan tugas kepadapeserta didik selama masa belajar dari rumah, sebaiknya tidak sekedarmelepaskan kewajiban atau menghalalkan gaji. Tidak semua projek (tugas,tagihan, PR) yang dibagikan guru kepada siswa menjadi produk WFH yang baik. Iaharus berangkat dari kompetensi yang relevan. Kompetensi ini pasti harus memuatindikator pembelajaran yang terukur.
Bahwa materi ajar di dalam kurikulumpendidikan itu sudah disusun dan dirancang agar berkesinambungan. Sebuah materiyang diajarkan saat ini, bisa jadi menjadi kemampuan prasyarat untuk bisamelanjutkan materi berikutnya. Lalu, jika dengan alasan dampak covid-19 inibanyak materi ajar yang tidak tersampaikan, maka akan terjadi kebocorankurikulum.
PerlukanMatrikulasi atau Penambahan Semester?
Pertanyaan ini secaratersirat pernah saya lontarkan pada linimasaakun salah satu media sosial. Muncul tanggapan beragam baik yang pro maupunkontra. Tapi komentar yang dianggap tajam ternyata ada, Ikuti saja apapun yangmenjadi keputusan Pemerintah!
Program matrikulasi,baik dilaksanakan karena ia dianggap bisa menyisir materi yang tertinggal.Matrikulasi bisa digunakan untuk memenuhitarget pencapaian kurikulum, sekaligus meningkatkan daya serap siswa.Tapi siapa yang akan melakukan kegiatan ini?Tambahan kegiatan akan menimbulkan tambahan anggaran (biaya). Porsi manayang akan dialihakan untuk membiayaai program ini?
Kemudian terkait opsipenambahan semester, akan melahirkan dampak secara nasional. Kasihan negara, ditengah terkurasnya anggaran pemerintah untuk menanggulangi pandemic covid-19ini, harus dibebani oleh anggaran baru karena harus menganulir kebijakanKemendikbud yang tengah berjalan. Belum termasuk perubahan-perubahan sistemlainnya.
Solusi final, Jalani semua proses yang adadengan sikap arif dan bertanggung jawab. Ikuti anjuran Pemerintah. Titik!
Wallohualambish-showab

0 Comments