Stres akademik kerap membayangi siswa kelas XI SMA Negeri 2 OKU akibat tingginya beban belajar. Melalui inovasi Ketut Widyawati dan Nazzwa Ramadhany, kombinasi aromaterapi ruku-ruku dan chamomile hadir sebagai solusi alami. Hirupan uap khasnya bekerja menenangkan sistem saraf, terbukti efektif meredakan kecemasan, serta menjadi langkah baru menjaga kesehatan mental di sekolah.
Efektivitas Aromaterapi Inhalasi Kombinasi Ruku-Ruku dan Chamomile dalam Mereduksi Stres Akademik Siswa
Dinamika pendidikan di tingkat sekolah menengah atas menuntut siswa untuk terus beradaptasi dengan beban belajar yang tinggi, target kurikulum yang padat, serta rangkaian evaluasi yang intensif. Bagi siswa kelas XI di SMA Negeri 2 OKU, fase ini menjadi transisi krusial di mana tekanan akademik kerap kali memicu kecemasan dan stres berlebih. Stres akademik yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya berpotensi merusak fokus belajar dan menurunkan prestasi, tetapi juga memicu gangguan somatik seperti insomnia, sakit kepala, dan kelelahan kronis. Di tengah keterbatasan penanganan stres secara konvensional di sekolah, hadir kebutuhan mendesak akan intervensi non-farmakologis yang aman, alami, dan praktis. Salah satu pendekatan holistik yang potensial untuk diterapkan di lingkungan sekolah adalah terapi inhalasi berbasis aromaterapi herbal.
Potensi bahan alam Indonesia dalam meredakan ketegangan sistem saraf menjadi titik pijak utama penelitian ini, khususnya melalui pemanfaatan tanaman ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum L.). Secara tradisional dan fitokimia, ruku-ruku kaya akan minyak atsiri dengan komponen aktif seperti eugenol dan caryophyllene yang memiliki sifat adaptogenik serta relaksan. Ketika dipadukan dengan chamomile—herbal yang telah diakui secara global mengandung flavonoid apigenin dengan efek sedatif ringan—keduanya diperkirakan mampu menghasilkan efek sinergis yang kuat. Kombinasi aromaterapi ini dirancang untuk memberikan sensasi penenang (calming effect) yang lebih optimal pada sistem limbik otak dibandingkan dengan penggunaan ekstrak tunggal. Penelitian ini pun digagas untuk menguji secara kuantitatif sejauh mana efektivitas formulasi kombinasi ruku-ruku dan chamomile dalam mereduksi tingkat stres akademik siswa.
Untuk membuktikan gagasan tersebut, pendekatan kuantitatif melalui metode eksperimen kuasi dengan desain one-group pretest-posttest digabungkan bersama metode survei. Penelitian ini melibatkan siswa kelas XI SMA Negeri 2 OKU yang dipilih secara terukur berdasarkan kriteria inklusi, yaitu siswa yang teridentifikasi mengalami tingkat stres sedang hingga tinggi serta tidak memiliki riwayat alergi minyak atsiri atau gangguan pernapasan. Proses penelitian diawali dengan ekstraksi minyak atsiri ruku-ruku dan chamomile, yang kemudian diformulasikan ke dalam konsentrasi yang aman. Tingkat stres awal siswa diukur menggunakan instrumen kuesioner terstandar seperti Depression Anxiety Stress Scales (DASS-21). Selanjutnya, siswa diberikan intervensi berupa paparan aromaterapi melalui ultrasonic diffuser secara rutin selama dua minggu. Setelah periode intervensi selesai, tingkat stres siswa kembali diukur untuk melihat perubahan skor secara signifikan melalui uji statistik komparatif.
Melalui intervensi berkala ini, penelitian diharapkan dapat membuktikan secara matematis bahwa inhalasi kombinasi ekstrak ruku-ruku dan chamomile efektif menurunkan skor stres akademik siswa secara signifikan. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi solusi mandiri yang ramah bagi siswa dalam menjaga kesehatan mental di tengah kesibukan sekolah. Bagi pihak SMA Negeri 2 OKU, khususnya tim Bimbingan Konseling (BK), temuan ini memberikan dasar empiris untuk merancang program Mental Health Awareness berbasis lingkungan, seperti penyediaan ruang relaksasi aromaterapi. Pada skala yang lebih luas, penelitian yang dilakukan oleh Ketut Widyawati dan Nazzwa Ramadhany ini turut memperkaya literatur ilmiah terkait optimalisasi kearifan flora lokal Indonesia yang dikombinasikan dengan pemanfaatan herbal global dalam lingkup psikologi pendidikan.